Tidak terasa usia perdamaian di Aceh setelah penandatanganan kesepakatan di Helsinki telah genap 11 tahun. Di balik semua itu, sosok Zaini Abdullah memegang posisi sangat penting, sejak awal perundingan dimulai. Zaini adalah salah satu orang kepercayaan Hasan Tiro saat mulai memimpin perlawanan dengan bendera Gerakan Aceh Merdeka pada 1970-an. Selama di pengasingan di Swedia, Zaini mendampingi Hasan Tiro, menjadi teman diskusi. Zaini berkali-kali ditunjuk sebagai perunding pada upaya perdamaian antara GAM dengan pemerintah Indonesia sejak tahun 2000.
Mantan juru runding yang mewakili Pemerintah Indonesia, Hamid Awaluddin menuliskan secara rinci cerita di balik perundingan Helsinki dalam bukunya Damai di Aceh: Catatan Perdamaian RI-GAM di Helsinki. “Bertemu langsung dengan pimpinan GAM dan bergaul dekat dengan mereka, tak pelak membuat saya kian mengenali karakter mereka satu per satu,” kenang Hamid. “Terasa benar bagi saya, jam terbang Malik Mahmud dan Zaini Abdullah dalam meja perundingan sangat panjang. Kata-katanya terasa terukur dan ditimbang penuh sebelum dikeluarkan,” tutur Hamid. Malik Mahmud adalah ketua tim perunding, bersama Zaini, Nur Djuli, Nurdin Abdurrachman dan Bakhtiar Abdullah.
Dalam perundingan yang difasilitasi mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisaari, kedua pihak meneken perjanjian damai pada 15 Agustus 2005. MoU Helsinki itu mengakhiri perang yang berlangsung selama tiga dasawarsa, dengan harapan besar dapat mengobati luka dalam sejarah Aceh. Tidak lama setelah penandatanganan MoU Helsinki, sejumlah petinggi GAM yang telah lama bermukim di Swedia memutuskan kembali ke Aceh. Zaini termasuk di antaranya. Tanpa disertai oleh Hasan Tiro, tugas mereka adalah memastikan pelaksanaan MoU Helsinki dan memonitor pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), turunan dari MoU Helsinki.
Pasca-MoU Helsinki, Zaini Abdullah terus menjalin komunikasi dengan para pemimpin Indonesia. Pada peringatan setahun perdamaian, Abu Doto Zaini bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan disaksikan ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) Pieter Faith. Zaini juga menemui Ketua MPR saat itu, mendiang Taufik Kiemas. Ketika Hasan Tiro pulang selama dua pekan ke Aceh pada Oktober 2008, Doto Zaini dengan setia mendampingi dan mengantarnya kembali ke Swedia. Zaini Abdullah pun masih menyempatkan diri mengabdi kembali sesuai profesinya sebagai dokter di tempatnya dulu bertugas, dengan menggelar pengobatan gratis bagi warga Kecamatan Karang Baru Aceh Tamiang.
Demi memastikan perdamaian Aceh, Zaini Abdullah memutuskan bertarung dalam Pilkada Aceh 2012. Visi yang diusung Zaini Abdullah ketika itu adalah “Aceh yang bermartabat, sejahtera, berkeadilan, dan mandiri berlandaskan UUPA sebagai wujud MoU Helsinki.” Dalam kampanye saat itu, Zaini menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat yang belum memenuhi semua butir pelaksanaan MoU Helsinki. Kritik keras kembali dilontarkan setelah Zaini terpilih sebagai Gubernur Aceh. Sang Dokter ini sangat keras ketika sudah memegang janji, sehingga kritiknya tidak akan berhenti jika ada tanda pengkhianatan.
Harapan tinggi memang digantungkan rakyat Aceh kepada Zaini Abdullah untuk membawa Aceh maju.
Harapan tinggi memang digantungkan rakyat Aceh kepada Zaini Abdullah untuk membawa Aceh maju.
Perubahan politik telah mengantarkan mantan pejuang kemerdekaan Aceh itu terpilih menjadi gubernur melalui pilkada yang berlangsung demokratis. Menurut Zaini, kendala terbesar pelaksanaan kesepakatan damai Helsinki adalah sikap Jakarta yang dianggapnya belum mengimplementasikan perjanjian itu secara optimal. “Kedua belah pihak menjadi korban, untuk itu penting apa yang telah terjadi di masa konflik bisa diselesaikan relatif singkat,” ujar Zaini dalam sosialisasi MoU Helsinki dan UUPA usai terpilihnya kepemimpinan nasional baru Jokowi-JK.
“Terpenting saat ini bagaimana isi kesepakatan Helsinki dapat sepenuhnya dijalankan pemerintah Indonesia, karena konflik di Aceh tidak akan terjadi lagi, saya menjadi jaminannya,” tandas Zaini, yang sebelumnya secara terbuka mendukung capres Jokowi-JK. Hingga satu dasawarsa perdamaian di Aceh, sudah sekitar 64 pasal atau 90% dari 71 butir MoU Helsinki yang sudah dilaksanakan. Pada 12 Februari 2015, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah nomor 3 tahun 2015 tentang pelimpahan kewenangan yang bersifat nasional kepada Pemerintah Aceh. Dua peraturan lain juga telah diterbitkan pemerintah pusat, yaitu PP 23/2015 tentang pengelolaan bersama migas di Aceh dan Perpres 23/2015 tentang pengalihan urusan pertanahan yang semula di bawah Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Meskipun demikian Zaini berpesan, masih ada kerikil yang berpotensi mengganggu perdamaian. Beberapa hal masih menggantung, seperti pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), pengadilan HAM, dan Komisi Bersama Penyelesaian Klaim. “Ada dinamika yang menghadirkan perdebatan antara Aceh dan pusat, tapi percayalah dinamika itu bukan untuk mengganggu perdamaian, tetapi justru untuk mematangkan perdamaian,” tegas Zaini. Kepada seluruh rakyat Aceh, Zaini berharap semua pihak terus menjaga dan melestarikan damai, tidak perlu merasa ada yang paling berjasa. “Mari kita buktikan bahwa model perdamaian di Aceh layak menjadi contoh bagi dunia,” kata Zaini.
Merasakan beratnya perjuangan, dari gerilya di Aceh hingga diplomasi di tingkat internasional, Zaini menyadari sepenuhnya tidak mudah untuk merawat perdamaian. “Menjaga perdamaian lebih berat dari berperang, dulu kita berperang dengan senjata, sekarang kita berperang dengan pikiran,” kata Zaini saat meninjau sejumlah lokasi banjir di Tangse akhir 2015. “Aceh masih jauh tertinggal, kita harus terus berjuang untuk mensejahterakan Aceh,” pungkas Zaini. Dilandasi itu semua, Zaini dengan mantap memutuskan untuk berlaga kembali dalam Pilkada Aceh 2017 mendatang.
Meski banyak yang melakukan kritik terhadap kepemimpinannya, namun dirinya sebagai orang yang sudah menelan pahit getirnya perjuangan, Abu Doto tidak goyah memegang amanah. Terbukti dibidang ekonomi, selama masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Aceh, angka-angka ekonomi Aceh bergerak tumbuh, demikian juga indikator sosial di bidang pendidikan dan kesehatan, semakin membaik. Inilah buah perdamaian. Bagi Zaini, perdamaian ibarat bunga, yang ditanam dan harus terus diberi siraman air agar tidak layu. Bunga itu harus terus mekar dan berkembang. Abu Doto, Sang Diplomat, Sang Gubernur itu sudah memberikan semua yang terbaik dari dirinya untuk tanah Aceh yang dicintainya.
Sumber : azanuntukaceh.org
Kalian bisa tahu sosok zaini yang tidak pernah menyerah demi masyarakat aceh untuk dapat hidup dengan layak, setengah hidupnya seperti untuk rakyat Aceh agar hidup rakyat Aceh damai dan sejahtera. Terima kasih Abu Doto untuk semua perjuanganmu.
kami senang Aceh sudah damai, insyaallah kami selaku masyarakat aceh akan menjaga perdamaian ini.

No comments:
Post a Comment