Mini Biografi dr. Zaini
Abdullah: Calon Gubernur Aceh 2017-2022
Dr. Zaini lahir di Beureunun, Kabupaten
Pidie pada 24 April 1940 silam. Ayahnya, Tgk. H. Abdullah Hanafiah tokoh
kharismatik di wilayah itu. Selain sebagai seorang ulama, beliau juga ikut
serta dalam gerakan DI/TII bersama Daud Beureueh, republikan asal Aceh yang
kemudian memimpin pemberontakan pembebasan DI/TII.
Di kemudian hari, jalur perjuangan Tgk. H.
Abdullah Hanafiah itu dilanjutkan oleh dr. Zaini Abdullah. Pada tahun 1976, DR
Tgk H Hasan Muhammad Tiro memproklamirkan GAM. Dr Zaini yang saat itu berstatus
sebagai dokter langsung bergabung dalam barisan perjuangan yang menentang
kesewenang-wenangan pemerintah pusat terhadap Aceh.
Keterlibatan Dr. Zaini tak terlepas dari
dari kecintaanya kepada Aceh. konsep pembebasan dan mensejahterakan rakyat Aceh
yang diusung Wali Nanggroe Hasan di Tiro begitu melekat dalam jiwanya.
Dalam masa-masa perjuangan bersama GAM,
tentu saja, ada begitu banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi. Bersama para
pejuang-pejuangan GAM lainnya, ia terus diburu. Foto-foto Dr. Zaini disebar
hingga ke pelosok-pelosok desa. Tak ada jalan lain selain bergeriliya ke
hutan-hutan. Berhari-hari, minggu, hingga berbulan-bulan.
Namun aparat keaman tak sama sekali tak
berhasil mengendus keberadaan Dr. Zaini. Semua itu tak terlepas dari peran masyarakat
di sekitarnya yang menutup keberadaan Dr. Zaini.
Tahun 1981, dr. Zaini memilih untuk hijrah
ke luar negeri. Selain karena kondisi Aceh semakin tak kondosif akibat operasi
militer yang digelar pemerintah RI di Aceh, kepergiannya ke luar negeri juga bagian
dari membangun diplomasi internasional, mengkampanyekan kesewenang-wenangan
pemerintah RI di Aceh.
Pada suatu malam di tahun 1981, bersama
beberapa rekan seperjuangan lainnya dr. Zaini berangkat ke Medan melalui jalan
darat. Dari Medan, perjalanan kemudian dilanjutkan ke Singapura menggunakan
boat nelayan. Perjalanan menempuh waktu tiga hari tiga malam. Dihembus angin
laut, dibakar terik matahari.
Usai melalui perjalanan yang melelahkan
itu, dr. Zaini tiba di sebuah pelabuhan di Negara Singapura. Saat itu, sedang
dilakukan pembangunan pelabuhan yang pekerjanya terdiri dari orang India dan
Sri Langka, mereka berkulit hitam. Untungnya, kondisi Dr Zaini dan
rekan-rekannya yang lusuh dan hitam legam tak membuat polisi Negara Singapura
curiga. Mereka dikira pekerja pelabuhan.
Dari sana, dr Zaini melanjutkan perjalanan
menuju rumah Perdana Mentri GAM, Malik Mahmud di Bukit Timah. Selama lima hari
di sana, ia berangkat menuju Swedia dengan menggunakan paspor Palang Merah
Internasional. Seorang warga India yang bekerja di UNHCR saat itu berbaik hati
mengurusi segala keperluan keberangkatan Dr. Zaini ke Swedia.
Tiba di Swedia, suasana sedang musim gugur.
dr. Zaini di tempat di tempat pengungsian di Revieden, 100 kilometer kota
Stockholm, Ibukota Swedia. Selama satu bulan ia berada di sana.
Keinginan dr. Zaini untuk menjadi dokter
tetap dipertahankan meski beliau telah di Swedia. Sebelumnya, ia harus belajar
bahasa Swedia di Universitas Upsula, dengan tugas utama belajar bahasa bahasa
kedokteran. Usai menyelesaikan pendidikan bahasa dan pendidikan kedokteran, dr.
Zaini mendapat ijazah dokter dan bekerja paruh waktu di salah satu rumah
Swedia. Tempat kerja itu berjarak 80 kilimoter dari kediamannya.
Dari tahun 1990-1995, dr Zaini kembali
menempuh pendidikan dokter spesialis keluarga. Biaya pendidikan ditanggung oleh
Loan, dan biaya itu harus diganti selesai kuliah dari hasil kerja.
Profesi dokter memang telah menjadi bagian
hidup dr. Zaini. Di tengah sejumlah kerja-kerja perjuangan untuk Aceh, ia terus
menjalani profesi sebagai seorang dokter dengan ikhlas. Tak jarang, tugas-tugas
kedokterannya sering berbenturan dengan tugas-tugas perjuangan. Semua itu
diselesaikan dengan lancar. Diplomasi dengan dunia internasional pun terus
dilakukan.
Pada tahun 2002, perundingan pertama antara
pemerintah RI dengan GAM dilakukan di Tokyo. dr. Zaini terlibat langsung dalam
perundingan itu. Namun perundingan gagal. Pemerintah Indonesia berusaha
memasukkan GAM sebagai salah satu organisasi teroris. Berkat diplomasi dan
lobi-lobi yang dilakukan tokoh-tokoh GAM di Swedia, usaha itu gagal total.
Pada 15 Agustus 2005, Memorandum of
Understanding (MoU) antara GAM dengan pemerintah RI diteken. Tak lama setelah
itu, dr. Zaini kembali ke Aceh, ia masih bercita-cita melanjutkan perjuangan,
mensejahterakan rakyat Aceh. “Orang Aceh harus bekerja giat membangun masa
depan Aceh, dan sanggup bersaing di tingkat internasional.”
Biodata Singkat :
Nama :
dr. Zaini Abdullah
Alamat, tempat tinggal :
Darul Aman, desa rapana, Jl. Tangse Km 1,
Teureubue, Beureunuen
Tempat, tanggal lahir :
Sigli, 24 April 1940
Profesi :
Dokter
Kewarganegaraan :
Indonesia
Nama Istri :
Niaza A. Hamid
Nama Anak :
Niza Ratna Zaini
Hasnita Zahra Zaini
Sri Wahyuni Zaini
Riwayat Pendidikan :
Sekolah Rakyat di Beureunuen – Aceh
(1947-1952)
Sekolah Menengah Pertama Sigli – Aceh (1953-1957)
Sekolah Menengah Atas Kutaraja/Banda Aceh – Aceh (1957-1960)
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (1960-1972)
Pendidikan Spesialis dalam Bidang Penyakit Kandungan dan Kebidanan pada Universitas Sumatera Utara (USU) - RSU Pirngadi - Medan (1975-1977)
Pendidikan Spesialis ‘Family Doctor’ di Karolinska Universitets Sjukhus Huddinge, Stockholm – Swedia (1990-1995)
Riwayat Pekerjaan :
Kepala Puskesmas/Kepala Rumah Sakit Umum Kuala Simpang–Aceh
Timur (1972-1975)
Aktif sebagai dokter di sejumlah Rumah Sakit di Swedia (1982-2005)
Pensiun dan bekerja sebagai Konsultan Kesehatan dan dokter di Rumah Sakit Umum dan Health Centre di Swedia (2005-2009)
Pengalaman dalam Organisasi dan Perdamaian
-Leadership Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
sekaligus Anggota Delegasi GAM dalam proses perdamaian Pertama dengan
Pemerintah Republik Indonesia (RI) pada Tahun 2000-2003 di Genewa – Swiss.
-Leadership Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sekaligus anggota Delegasi GAM dalam Perundingan Antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki-Finlandia tahun 2005 yang menghasilkan Kesepakatan Damai Bersama (MoU) Helsinki 15 Agustus 2005.
Sumber : https://www.facebook.com/barazaini/posts/1170661313011556
-Leadership Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sekaligus anggota Delegasi GAM dalam Perundingan Antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki-Finlandia tahun 2005 yang menghasilkan Kesepakatan Damai Bersama (MoU) Helsinki 15 Agustus 2005.
Sumber : https://www.facebook.com/barazaini/posts/1170661313011556

No comments:
Post a Comment