Wednesday, 23 November 2016

Zaini: Selidiki Calo Proyek Keureuto

Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah bersama Group of Regional Newspaper (GoRN) Director Tribun, Herman Darmo, dan Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar. menandatangani prasasti peresmian Kantor Harian Serambi Indonesia yang berada di Desa Meunasah Manyang, Km 4,5 Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Rabu (24/8). Penandatanganan itu disaksikan Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi, Kasdam IM, Brigjen TNI Moch Fachrudin, Wakil Direktur GoRN, Sentrijanto serta Pemimpin Perusahaan Harian Serambi Indonesia, Mohd Din.

* Jangan Ada Lagi Kawasan Terisolir
BANDA ACEH - Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah meminta awak media menginvestigasi pembangunan Waduk Krueng Keureuto di Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, karena terdeteksi ada calo pembebasan tanah yang bermain di sana. Ulah sang calo bahkan sempat menghentikan pengerjaan proyek tersebut selama tiga bulan.
Hal itu disampaikan Gubernur Zaini saat memberi sambutan pada peresmian gedung baru Harian Serambi Indonesia di Gampong Meunasah Manyang, Aceh Besar, Kamis (24/8).
Menurut Gubernur Aceh, proyek waduk senilai Rp 1,7 triliun itu sejak tiga bulan terakhir terhenti pengerjaannya, akibat ulah segelintir orang yang disebutnya ‘calo’.
“Kenapa bisa terjadi demikian? Karena tiba-tiba muncul orang yang mengaku pemilik lahan. Padahal, semula kawasan itu sebenarnya hutan rimba,” ungkap Zaini seraya menyatakan bahwa calo-calo tersebut meminta ganti rugi lahan kepada pekerja proyek di sana.
Gubernur sangat menyayangkan praktik curang dan bergaya preman yang dilakukan oknum-oknum calo tersebut, mengingat Waduk Krueng Keureuto dibangun berdasarkan kepentingan masyarakat di sana. “Pekerjaan ini mulia, pembangunan ini sangat dibutuhkan masyarakat di sana. Saya mohon Pimpinan Serambi dapat mengutus wartawannya untuk menyelidiki kasus ini. Mohon diinvestigasi,” pinta Zaini.
Ia tambahkan, Pemerintah Aceh akan bergerak bersama media dalam menyelidiki kasus ini, sebab manfaat dari pembangunan itu sangat besar bagi masyarakat. “Waduk ini sangat penting untuk mengantisipasi banjir, pengairan sawah, cadangan air minum, hingga menghasilkan energi listrik untuk masyarakat setempat,” jelas Zaini.
Ground breaking (peletakan batu pertama) bendungan Krueng Keureuto di Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, dilakukan oleh Presiden Jokowi pada 9 Maret 2015. Ini bendungan terbesar kedua di Sumatera, setelah Bendungan Batu Tegi di Lampung. Bendungan tersebut juga termasuk satu dari 13 di Indonesia yang dilakukan peletakan batu pertamanya oleh Jokowi pada 2015.
Bendungan ini mampu menampung 216 juta meter kubik, dengan panjang bendungan mencapai 80 meter, serta mampu meredam dan mereduksi debit banjir sampai dengan periode ulang 50 tahun.
Luas areal untuk pembangunan bendungan tersebut mencapai 1.500 ha dari Aceh Utara hingga ke Bener Meriah. Bendungan ini memiliki banyak fungsi. Selain untuk sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 6,34 Megawatt, bendung Keureuto juga memiliki fungsi untuk air baku yang mampu menghasilkan 500 liter per detik. Juga sebagai sumber irigasi untuk dialirkan ke areal sawah di belasan kecamatan di Aceh Utara dengan luas areal 9.420 ha.

No comments:

Post a Comment